Rabu, 24 Oktober 2012

MENARA BABEL



Beberapa orang dari keturunan Nuh tidak lama mulai murtad. Sebagian mengikuti teladan Nuh dan menuruti perintah-perintah Allah; yang lain menjadi orang-orang tidak percaya dan memberontak, bahkan orang-orang ini sama sekali tidak percaya mengenai Air Bah. Ada yang tidak percaya akan adanya Allah, dan di dalam pikiran mereka sendiri menganggap Air Bah itu berasal dari sebab-sebab alamiah. Yang lain percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Ia membinasakan bangsa dahulu kala itu dengan air bah; dan perasaan mereka, sama seperti Kain, bangkit memberontak melawan Allah oleh sebab Ia membinasakan orang-orang dari bumi dan mengutuki bumi ketiga kalinya dengan air bah.
Mereka yang menjadi musuh Allah merasa setiap hari ditegur oleh percakapan yang benar dan kehidupan yang saleh dari orang-orang yang mengasihi, menuruti, dan meninggikan Allah. Orang-orang yang tidak percaya berembuk di antara mereka sendiri dan sepakat untuk memisahkan diri dari orang-orang yang setia, yang kehidupan mereka  yang benar merupakan suatu pengekangan yang terus-menerus terhadap jalan mereka yang jahat. Mereka pergi menjauh dari orang-orang yang setia dan memilih suatu lembah yang luas di mana mereka tinggal. Mereka membangun sebuah kota untuk mereka, dan kemudian menelorkan gagasan untuk membangun sebuah menara yang tinggi yang akan mencapai awan-awan, supaya mereka dapat tinggal bersama-sama di dalam kota dan menara itu, dan tidak lagi tersebar.
                Mereka beralasan bahwa mereka akan aman sekiranya ada air bah lain, karena mereka akan membangun menara mereka jauh lebih tinggi dari pada tingginya air pada waktu Air Bah, dan seluruh dunia akan menghormati mereka, dan mereka akan menjadi seperti dewa-dewa serta memerintah orang banyak. Menara ini diperkirakan adalah untuk meninggikan para pembangunnya, dan dirancang untuk mengalihkan perhatian orang-orang lain yang akan hidup di atas bumi dari Allah untuk bergabung dengan mereka dalam penyembahan berhala mereka. Sebelum pekerjaan pembangunan menara itu selesai, orang-orang tinggal di menara itu. Kamar-kamar dilengkapi dengan nyaman, dihiasi, dan dipersembahkan kepada berhala mereka. Mereka yang tidak percaya pada Allah membayangkan jika menara mereka bisa mencapai sampai ke awan-awan, maka mereka akan dapat menemukan alasan-alasan penyebab Air Bah itu.  
                Mereka meninggikan diri mereka sendiri melawan Allah. Tetapi Ia tidak akan membiarkan mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka telah membangun menara mereka sampai sudah tinggi sekali ketika Tuhan menyuruh dua orang malaikat untuk mengacaukan pekerjaan mereka. Orang-orang telah ditentukan untuk menerima pesan dari para pekerja di puncak menara itu, yang meminta bahan untuk pekerjaan mereka, di mana yang pertama akan menyampaikan permintaan itu kepada yang kedua, dan seterusnya kepada yang ketiga, sampai pesan itu tiba pada mereka yang berada di atas tanah. Ketika pesan itu disampaikan dari satu orang kepada yang lain supaya sampai ke bawah, malaikat-malaikat itu mengacaukan bahasa mereka, dan ketika pesan itu tiba pada para pekerja di atas tanah, bahan yang diminta bukanlah yang diperlukan. Dan setelah proses kerja keras untuk menyampaikan bahan itu kepada orang-orang yang bekerja di puncak menara itu, ternyata itu bukanlah bahan yang mereka perlukan. Dengan kecewa dan marah, mereka menegor orang-orang yang mereka duga bersalah.
Setelah hal ini terjadi tidak ada lagi keselarasan dalam pekerjaan mereka. Mereka saling memarahi, dan tidak dapat memertangung jawabkan karena salah pengertian dan kata-kata aneh di antara mereka, mereka meninggalkan pekerjaan itu dan berpisah dari satu sama lain lalu menyebar ke seluruh bumi. Sampai pada waktu ini manusia hanya memakai satu bahasa. Kilat dari langit, sebagai tanda murka Allah, menghancurkan puncak menara mereka, menghempaskannya ke atas tanah. Demikianlah Allah menunjukkan kepada manusia yang berontak bahwa Ia adalah yang paling berkuasa.

Diterjemahkan bebas oleh 
Pdt. Roy M. Hutasoit

Tidak ada komentar: